Jumat, 22 Januari 2010

Gelang Mahal

Suatu kali putra saya, kelas 1 SD, menghadiahi saya gelang. Gelang
  untaian manik buatan anak tetangga, yang ia beli dua ribu rupiah per
  buah. Tak biasa ia royal membelanjakan tabungannya, sekali ini ia
  belikan saya tiga gelang sekaligus. Penasaran, saya tanya alasannya.
  Jawabnya, semata karena sayang. Jadi, ia meminta saya selalu memakai
  tiga gelang itu. Saya pun memakai ketiganya di rumah. Namun, rasanya
  "malu" memakai "gelang anak-anak" keluar rumah. Walaupun begitu,
  saya pakai juga sebuah. Jika orang bertanya, saya akan ceritakan
  kasih tulus anak saya di gelang itu!

  Anak yang dianugerahkan pada keluarga wanita Sunem yang mendukung
  pelayanan Elisa, juga telah mendatangkan sukacita besar bagi
  keluarganya. Buktinya, ketika anak itu meninggal, hati si ibu
  hancur, sukacitanya melayang seketika. Ia pun berlari menemui Elisa
  lagi, serta memohon agar tidak hanya diberi "harapan kosong" (ayat
  28). Lewat doa Elisa, anak itu kembali hidup (ayat 35), dan siap
  menjadi pembawa sukacita lagi.

  Orang jarang memperhatikan bahwa sebenarnya anak-anak juga banyak
  memberkati orangtua. Sejak lahir, anak-anak telah memberi
  orangtuanya banyak tawa dan pengalaman indah. Memberi makna hidup
  yang lebih. Juga semangat, penguatan, penghiburan. Sayangnya kala
  letih atau masalah menimpa, kehadiran anak-anak bisa terasa
  "mengganggu". Salah-salah, mereka menjadi tempat pelampiasan. Jika
  itu terjadi, kita rugi dua kali. Anak-anak menjadi lemah, kita
  sendiri tetap berbeban. Padahal Tuhan menyimpan "cadangan kekuatan
  kita" dalam diri anak-anak. Mari mengasihi dan mensyukuri setiap
  anak di hidup kita!

  SETIAP ANAK HADIR DENGAN MISI BESAR:
  MENJADI SEMANGAT, PENGUATAN, DAN PENGHIBURAN BAGI ORANGTUA!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar